KESAKSIAN

Posted: 24 April 2012 in Kesaksian, Khotbah, Motivasi, Pertobatan, Renungan, Rohani
Tags:

Kesaksian Muhammad Soewito 1

Kesaksian Muhammad Soewito 2

Kesaksian Muhammad Soewito 3

Kesaksian Muhammad Soewito 4

Kesaksian Muhammad Soewito 5

Kesaksian Muhammad Soewito 6

Muslim Kesaksian Ibu Siti Hadidja

Kesaksian Daud Tony 1

Kesaksian Daud Tony 2

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

(Yohanes 14:6)

Advertisements

Penyembahan adalah ekspresi pengertian tentang nilai-Nya Tuhan dalam hidup kita. Penyembahan akan meruntuhkan tembok yang berupa kemarahan, kekakuan, kebosanan. Sorga tidak membutuhkan pengkhotbah, sorga butuh penyembahan. Penyembahan yang tidak pada tempat, akan bisa membawa dampak yang merusak, kalau kita menyembah uang, sex, berhala, membawa kita pada penyimpangan dari Tuhan.

“Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.“, Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.”Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh.4:7-24)

Seorang bisa menyembah Tuhan karena mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, penyembahan adalah bersifat personal, yaitu keintiman. Penyembahan dari kata “PROSKONEO” artinya kiss, yaitu cium. Ketika Tuhan Yesus ada percakapan antara perempuan Samaria, Yesus berkata kepada perempuan ini “Berilah Aku minum”.

Kekristenan tanpa pengalaman diubahkan, adalah kosong dan gagal, oleh karena itu pengalaman pribadi dengan Tuhan akan membuat kita mempunyai hubungan yang special, sebuah hubungan penyembahan yang indah. Penyembahan akan membuat kita menjadi terbuka kepada Tuhan. Penyembahan akan membuat kita mengenal Allah yang benar, karena penyembah-penyembah yang benar akan menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Tuhan tidak mencari penyembahan, tetapi Tuhan mencari penyembah-penyembah. Penyembahan adalah aktivitas atau kegiatan, tetapi Penyembah adalah orang atau pribadinya, jadi jadilah Pribadi yang menyembah Tuhan. Menyembah yang benar buka diulang-ulang, sebagai contoh: adalah nabi baal ketika menyembah kepada baal, nabi-nabi itu berteriak-teriak, mengulang-mengulang, bahkan nabi-nabi baal itu sampai menorah-noreh sedluruh tubuhnya, supaya Tuhan perhatian atas mereka. Elia menyembah Allah dengan beda, yang dilakukan Elia hanya yang dikatakan sedikit, yaitu Tuhan hanya engkau saja mata dan hatiku tertuju. Hasilnya Allah berkenan dan Tuhan memberikan kemenangan.

Kenapa penyembahan dihubungkan dengan pelacur, karena penyembahan berhubungan dengan keintiman. Perempuan Samaria yang memiliki 5 suami atau dengan istilah pelacur, melakukan penyembahan yang sungguh-sungguh. Tuhan Yesus hanya katakan satu kata yang mengenai sasaran dan perubahan yang radikal, yaitu “dosamu sudah diampuni”. Pengampunan akan membawa perubahan dari neraka kekal kepada kehidupan sorga yang kekal.

“Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.” (Yoh. 4: 28-30)

Dampak yang terjadi ketika mengalami pengampunan, aka nada penyembahan yang radikal, wanita Samaria ini, tampil dan membawa dampak bagi seluruh kota, berdampak bagi banyak orang. Perempuan Samaria ini pergi dan seluruh kota mendengar tentang siapa Yesus. Menurut riset dan penelitian bahwa Penginjil pertama wanita adalah pelacur ini, yaitu wanita Samaria. Pentingnya penyembahan, karena penyembahan itu menjadi lawan iblis, sehingga ketika ada penyembahan yang benar, iblis mencoba untuk mengacaukan, tetapi Allah yang akan menghardik iblis dan berkata “engkau harus menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran.”

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

 khotbah lain dari : Pdt. Chris Manusama

Melewati Titik Balik (Point No Of Return)

“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” (kej. 13: 14-15).

“Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kej. 15:5).

Apa yang kamu lihat, atau impikan akan menentukan apa yang akan kitan dapatkan? Apa yang menjadi kerinduan kita menjadi kenyataan? Jadi kerinduan dan mimpi sebagai awal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” (II Tim 2: 4-6)

Prinsip kehidupan sehingga kita menjadi orang yang berhasil, sehingga apa yang kita impikan tergenapi. Ayat diatas adalah Surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada anak didiknya Timotius. Tiga gambaran yang Paulus pakai, yaitu: seorang Prajurit, Olahragawan, Petani, menggambarkan kehidupan orang Kristen. Kesamaan yang ada dalam ketiga figur itu mereka mempunyai kegigihan dan komitmen yang sama, untuk memulai apa yang dilakukan dan menyelesaikan apa yang sedang di kerjakan. Banyak orang Kristen yang tidak mendapatkan apa yang menjadi janji Tuhan, karena mereka tidak dengan gigih dan komitmen melakukan apa yang menjadi janji Tuhan sampai finish, sehingga tidak mendapat apa-apa. Dalam melewati titik balik, adalah sebuah keputusan untuk melakukan dengan komitmen sehingga tidak bisa mundur, melainkan akan terus jalan sampai pada tujuan, tidak ada perubahan pikiran tetapi terus sampai pada tujuan.

Prinsip-prinsip kehidupan yang harus kita pegang dan hidupi supaya apa yang kita rindukan, impikan dan cita-citaka tergenapi, yaitu melalui:

1. KOMITMEN PADA TUHAN

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak(Maz. 37:5)

Komitmen akan membedakan antara seorang pemimpin dan pengikut. Mimpi merupakan sesuatu yang dahsyat, apalagi mimpi itu berasal dari Tuhan. Seorang yang mempunyai mimpi harus memiliki komitmen untuk menyelesaikan sampai finish. Komitmen memberikan hasrat dan kerinduan, tetapi jika hanya sekedar kerinduan tidak akan mencapai pada hasil yang sempurna, karena kerinduan harus disertai dengan tindakan dan usaha yang sungguh-sungguh. Hasrat dan kerinduan hanya bersifat sementara dan akan hilang, karena itu perasaan, oleh karena itu perlu komitmen.

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:2).

Tuhan selalu komitmen setiap keputusan yang dibuat-Nya, termasuk ketika Tuhan akan menyerahkan anak-Nya dalam Nama Tuhan Yesus untuk menebus dosa umat manusia.

2. KOMITMEN MENGUBAHKAN KERINDUAN MENJADI KEINGINAN

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Lukas 9: 57-58)

Komitmen memberikan hasrat dan kerinduan, tetapi jika hanya sekedar kerinduan tidak akan mencapai pada hasil yang sempurna, karena kerinduan harus disertai dengan tindakan dan usaha yang sungguh-sungguh. Hasrat dan kerinduan hanya bersifat sementara dan akan hilang, karena itu perasaan, oleh karena itu perlu komitmen. Tuhan Yesus memberikan pengajaran bahwa ketika kita mengikut Yesus, harus berani ambil keputusan sebagai komitmen. Janji menimbulkan pengharapan, tetapi komitmen akan menimbulkan kepercayaan. Orang yang komitmen tidak banyak alasan tetapi akan menyelesaikan setiap tugas dengan baik.

3. KOMITMEN AKAN MENYELESAIKAN SEGALA SESUATU

Semangat bisa membuat kita masuk dalam pernikahan, komitmen yang bisa membesarkan anak, semangat bisa membuka gereja, hanya komitmen yang bisa membuat jemaat dan gereja digembalakan. Semangat bisa membuat kita masuk kuliah, dan hanya komitmen yang membuat kita bisa menyelesaikan kuliah itu.

Perbaharui komitmenmu kepada Tuhan, maka kita akan mengalami pemulihan baik dalam pernikahan, pekerjaan, pelayanan dan segala aspek kehidupan kita, Karena Komitmen kepada Tuhan akan mengubah dan memperbaharui kehidupan kita. Lewati Titik Balik kehidupanmu dengan kembali berkomitmen kepada Tuhan, maka kita akan mendapat perkenananNya. Amin…

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

khotbah lain dari : Ps. Jose Carol

Kesaksian Pengamen cilik Syalom Warga Sorga…

Pengamen cilik yang di pakai TUHAN YESUS secara luar biasa…

Dibawah ini merupakan kesaksian dari pendeta yang bernama Pdt. Wisnu.

Beberapa waktu yang lalu saya ada pelayanan untuk Youth di daerah Tangerang. Saya naik bus jurusan Tangerang pada siang harinya untuk menuju rumah kakak saya terlebih dulu karena pelayanan tersebut akan berlangsung sore hari. Didalam bus yang penuh sesak tersebut, masuk pula seorang pengamen cilik usia sekitar 7-8 tahun dengan berbekal kecrekan sederhana (mungkin dari tutup botol). Berbekal alat musik sederhana tersebut, dia nyanyikan lagu “YESUS Ajaib,TUHANku Ajaib…” (a song by Ir. Niko,red.) Dan kata-kata tersebut diulang terus menerus.

Hampir seluruh penumpang bus memarahi anak tersebut : “Diam kamu! Jangan nyanyi lagu itu lagi. Kalau kamu nggak diam, nanti saya pukul kamu!” Tapi ternyata anak tersebut tidak menanggapi kemarahan mereka dan dengan berani terus menyanyikan lagu tersebut.

Saya dalam hati berkata: “TUHAN, anak ini luar biasa. Kalau saya, belum tentu saya bisa berani melakukan hal tersebut”.

Karena bus akan melanjutkan perjalanan menuju tol berikutnya, di pintu tol menuju Serpong (kalau tidak salah), hampir 3/4 penumpang turun dari bus tersebut. Termasuk saya dan pengamen cilik tersebut. Anak kecil itu didorong hingga akhirnya jatuh. Kemudian dia bangkit lagi. Tapi dia didorong oleh massa hingga terjatuh lagi. Semua penumpang bus mengerumuni anak itu. Saya masih ada di situ dengan tujuan jika kemudian anak tersebut akan ditempeleng atau dihajar, saya akan berusaha untuk menariknya lari menjauhi mereka. Seluruh kerumunan itu baik pria maupun wanita menjadi marah. “Sudah dibilang jangan nyanyi masih nyanyi terus! Kamu mau saya pukul?” dan seterusnya, dan seterusnya.

Anak kecil itu hanya terdiam. Setelah amarah mereka mulai mereda, anak kecil itu baru berbicara. “Bapak-bapak dan Ibu- Ibu, jika mau pukul saya, pukul saja. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Tapi yang Bapak dan Ibu perlu tahu, walaupun saya dipukul atau dibunuh saya tetap akan menyanyikan lagu tersebut.” Seluruh kerumunan menjadi terdiam sepertinya mulut mereka terkunci. Kemudian dia melanjutkan. “Sudahlah… Bapak, Ibu tidak perlu marah-marah lagi. Sini… saya doakan saja Bapak-bapak dan Ibu-ibu.” Dan apa yang terjadi, seluruh kerumunan itu didoakan satu per satu oleh anak ini. Banyak yang tiba- tiba menangis dan akhirnya mau menerima TUHAN.

Saya yang sadari tadi menyaksikan hal tersebut, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tersebut. Saya melanjutkan naik mikrolet. Jalanan menjadi macet karena kejadian tersebut hingga mikrolet melaju dengan sangat lambat….

Sopir mikroletnya bertanya kepada saya. “Ada apa sih Pak? Kok banyak kerumunan?” Saya jawab. “O… Itu ada banyak orang didoakan oleh anak kecil.” Di saat mikrolet melaju dengan sangat pelan, tiba- tiba anak kecil pengamen itu naik mikrolet yang sama dengan saya. Saya kemudian bertanya kepada pengamen cilik itu. “Dik, kamu nggak takut dengan orang-orang itu?” Jawabnya si Pengamen cilik ini. “Buat apa saya takut? Roh yang ada dalam diri saya lebih besar dari roh apapun di dunia ini.” tuturnya mengutip ayat Firman Tuhan. Lanjutnya kata si Pengamen cilik tersebut “Bapak mau saya doakan? ” Saya terperanjat “Kamu mau doakan saya?” Jawabnya: “Ya kalau Bapak mau.” Saya menjawab, “Baiklah. Kamu boleh doakan saya.” Doanya, “TUHAN berkati Bapak ini. Berkati dan urapi Bapak ini jika sore nanti dia akan ada pelayanan Youth.” Sampai di situ, saya tidak bisa menahan air mata yang deras mengalir. Saya tidak peduli lagi dengan penumpang lain yang mungkin menonton kejadian tersebut. Yang saya tahu bahwa Tuhan sendiri yang berbicara pada anak ini, dari mana dia tahu saya akan ada pelayanan Youth sore ini.

Kesaksian ditutup sampai di situ dan dengan satu kesimpulan, jika kita mau, Tuhan bisa pakai kita lebih lagi. Bukan kemampuan tapi kemauan yang Tuhan kehendaki.

Kita sebagai anak Tuhan, harus punya keberanian luar biasa di akhir zaman ini untuk memberitakan nama “YESUS KRISTUS” kepada dunia. Jangan takut ataupun jangan malu mengakui YESUS di depan orang, menyaksikan firman-NYA. Dan nyatakanlah kemuliaanNYA melalui kita. Semoga kita menjadi seperti anak kecil, Kata Alkitab : Karena Merekalah Yang Empunya Kerajaan Sorga.

Maka YESUS memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Matius 18 : 2 – 5)

AMIN

LORD JESUS BLESS YOU

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

The Passion of Christ

“Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kis 24:16)

Setiap orang pasti ingin menjadi orang yang sukses dan berhasil maka kunci utamanya adalah dari hati. Apa yang dimaksud dengan hati nurani? Hati nurani adalah suara dari dalam hati atau batin kita yang berfungsi sebagai hakim dan wasit, yang akan menuduh jika kita melakukan hal yang salah oleh karena itu akan membuat kita merasa salah, merasa tidak nyaman, gelisah tapi ia juga akan memberi damai sejahtera jika kita melakukan hal yang benar.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Roma 2:14-15)

Kalau hati nurani kita murni maka kita akan peka terhadap suara hati nurani. Hati nurani itu ibarat GPS. GPS adalah alat penunjuk jalan dikala kita tersesat. Hati nurani kita pun demikian, hati nurani adalah alat penuntun kita kejalan yang benar agar tidak menyimpang kekanan maupun kekiri. Ketika kita berbuat salah maka hati nurani kita akan terus menuduh kita. Hati nurani yang diabaikan dapat membuat hati nurani kita menjadi tumpul atau bahkan mati, sehingga suara hati tidak dapat menuntun kita kembali.

Tiga hal yang dapat menyebabkan hati nurani kita menjadi kotor :

1. Membenarkan Diri Sendiri

Jika kita melakukan kesalahan maka hati nurani kita akan mendakwa kita. Namun kita bisa menipu hati nurani kita. Ketika hati nurani kita berkata bahwa kita salah, kita tidak mengabaikannya dan merasa bahwa kita melakukan hal yang benar. Waspadalah, karena hati nurani yang terus dibohongi dapat membuat hati nurani kita menjadi tumpul bahkan mati. Kalau hati nurani kita sudah mati, maka ketika kita melakukan dosa, maka hati nurani tidak dapat berkata-kata lagi, sehingga kesalahan yang kita buat jadi dibenarkan.

2. Mengabaikan Suara Hati Nurani

Kalau kita abaikan alarm suara yang berbicara dari hati nurani kita, maka suara itu akan mati dengan sendiri. Sama seperti alarm seatbelt mobil, jika pengemudi tidak mengenakan seatbelt, maka alarm akan terus berbunyi. Namun alarm seatbelt pun akan mati dengan sendirinya jika terus diabaikan oleh pengemudinya. Responi alarm dari suara hati kita dan jangan diabaikan agar hati nurani itu tidak mati. Jagalah hati kita, karena Roh Kudus sering kali berbicara melalui hati nurani kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati nurani kita supaya tetap murni agar Roh Kudus dapat terus berbicara dalam hati kita. Semakin murni hati kita akan semakin jelas Roh Kudus yang berbicara dalam hati kita. Kalau kita berbuat salah, mintalah pengampunan dosa kepada Tuhan, karena Dia setia dan adil dan akan mengampuni dosa-dosa kita. Jangan abaikan suara hati nurani kita yang menegur kita.

3. Hidup Dalam Kepura-Puraan (Kemunafikan)

Ketika kita hidup dalam kepura-puraan maka sesungguhnya kita sedang membohongi hati nurani kita. Kita sering berkata yang manis kepada orang padahal hati kita sedang benci dan dengki dengan orang tersebut. Kita harus hidup jujur seorang dengan yang lain. Bukan kita menjadi orang yang serba bicara apa adanya, tapi kita harus melakukan segala sesuatu dengan kasih Tuhan.

“Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus.” (Roma 9:1)

Bagaimana menjaga hati nurani kita murni :

1. Mengaku Dosa

Jika kita melakukan dosa, maka kita harus mengaku dihadapan Tuhan. Responi suara hati kita, jika hati nurani kita menyatakan kesalahan-kesalahan kita.

2. Mengisi Hati Nurani Kita Dengan Firman Tuhan

Kita harus hidup senantiasa seturut firman Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi patokan dan tuntunan dalam hidup kita agar kita tidak menyimpang dari jalan-jalan Tuhan.

3. Menuruti Tuntunan Roh Kudus Dalam Hati Nurani

Jangan pernah melawan suara hati nurani kita, karena Roh Kudus berbicara dalam hati nurani kita. Ia memberikan tuntunannya melalui hati nurani kita.

Hati nurani kita adalah sebuah sarana untuk Roh Kudus berkata-kata tentang jalan-jalan kehidupan yang harus kita tempuh. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa menjaga kemurnian hati kita agar kita hidup berkenan dihadapan Tuhan. Amin…

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

Oleh: Pdt. Agus Lutan

Dua belas tahun yang lalu saya mengalami suatu pengalaman yaitu saya dibawa ke neraka. Secara sadar saya melihat pembantaian yang luar biasa yang terjadi di dalam neraka. Saya mengalami stress yang berat ketika menerima penglihatan karena harus menyampaikan hal ini kepada banyak orang. Dua belas tahun tertekan karena begitu banyak orang yang terlewat dan masuk ke neraka tanpa mendengar kesaksian ini, namun sekarang hal itu telah terbayar karena sudah ribuan orang yang bertobat dan diselamatkan melalui kesaksian ini. Mengapa saya yang dikirim Tuhan ke neraka? Karena hanya orang hidup yang dapat memberitakan Injil, orang mati tidak mungkin akan menyampaikan Injil Allah kepada orang hidup. Untuk menyampaikan kepada semua orang yang masih hidup bahwa neraka sungguh ada dan semua orang yang mendengar bertobat.

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.” Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr 10:26-31)

Pengalaman dibawa kedalam neraka membuat saya sadar , bahwa Injil Kerajaan Allah harus diberitakan, sungguh berharga satu nyawa dihadapan Tuhan. Tidak ada kata yang tepat yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan yang ada di neraka. Apa saja yang saya lihat dineraka :

  1. Ada sebuah gerbang tinggi besar yang bertuliskan tulisan-tulisan roh yang artinya “Lembah Penyiksaan”.
  2. Suasana keputusasaan.
  3. Jiwa-jiwa yang terhilang yang begitu banyak jumlahnya.
  4. Seorang wanita yang dikelilingi oleh roh-roh jahat, yang terus diintimidasi oleh roh-roh jahat itu menurut bahasa mereka yaitu, “ayo berdusta, ayo berdusta”. Wanita itu terus dipaksa untuk mendustai Tuhan. “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” (Mat 5:29-30)
  5. Seorang pria yang badannya sudah meleleh, tidak bisa mati, dan mendekati lautan api. Orang yang sedikit saja mendekati lautan api tubuhnya pasti meleleh. roh-roh jahat meneriakkan “masturbasi, masturbasi”. Setiap orang yang masturbasi mengeluarkan seperti ulat-ulat dari seluruh lubang ditubuh dan kemaluannya.
  6. Orang yang mati karena saling membenci, mereka hidup saling memakan satu dengan yang lain. Mereka disebut “pembunuh” dan di neraka mereka saling membunuh.

“Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” (Way 20:11-15)

Maut adalah orang yang mati didalam dosanya, jiwa-jiwa yang tidak menemukan pertobatannya. Gerbang neraka itu menarik semua jiwa yang sudah tidak menemukan pertobatannya. Kerajaan maut adalah tempat penyimpanan orang-orang yang hidupnya tidak didalam Tuhan. Lautan api adalah tempat terakhir untuk setan-setan dan semua orang yang tidak hidup dalam Tuhan setelah Tuhan Yesus datang kedua kalinya, perapian yang tidak akan padam sampai selama-lamanya.

Fokus kita adalah firman Allah dan bukan kepada neraka. Kita harus fokus kepada keselamatan kita didalam Tuhan. “Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Hal utama yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal dan tidak turut masuk dalam kematian yang kekal adalah bertobat dan berbalik dari setiap kejahatan kita. Amin…

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

khotbah lain dari : Ps. Phillip Mantofa