Archive for the ‘Pertobatan’ Category

Kasih Bapa

Posted: 6 October 2017 in Kesaksian, Kita Harus Tahu, Pertobatan, Rohani
Tags: ,

Bapa di dunia saja seperti ini, Apalagi Bapa kita yang di surga

Matius 7:7-11

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

 

 

 

 

 

 

Yesaya 46:4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

 

 

 

 

 

Advertisements

Hasil gambar untuk 10 Hambatan Pertumbuhan Iman Apakah Iman Anda tidak bertumbuh? Mungkinkah Iman Anda statis, tidak mundur, juga tidak maju? Apa yang terjadi? Hal itu dikarenakan kita gagal mengenali hambatan-hambatan yang menghalangi pertumbuhan Iman kita. Iman tidak berhenti ketika kita mengambil keputusan percaya dan bertobat kepada Yesus Kristus. Iman harus di jalani, iman harus bertumbuh, berbuah, sampai mencapai tingkat kedewasaan penuh. Pertumbuhan iman adalah keharusan untuk kehidupan rohani yang berhasil dan produktif.

Alkitab dalam 2 Petrus 3:18 dan Efesus 4:13-15 memerintahkan kita agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus, dan mencapai kedewasaan penuh.

Ada 6 alasan mengapa kita harus bertumbuh dan menghasilkan buah:

  1. Bertumbuh dan berbuah menunjukan bahwa kehidupan rohani kita hidup
  2. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari kehidupan rohani yang tidak efektif.
  3. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari bahaya disesatkan (Efesus 4:13-14).
  4. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari kemurtadan (Ibr. 6).
  5. Bertumbuh dan berbuah membuktikan bahwa kita adalah orang Kristen sejati (Yohanes 15:8)
  6. Bertumbuh dan berbuah adalah cara kita memuliakan Tuhan (Yohanes 15:8).

Dr. Warren Wiersbe mengatakan, “persoalan terbesar dalam gereja bukan soal keuangan, tetapi soal ketidakdewasaan iman.” Artinya, jika orang Kristen bersikap masa bodoh terhadap kondisi imannya, sikapnya itu akan memunculkan banyak masalah dalam gereja dan kehidupan pribadinya.

Dalam perjalanan iman menuju kedewasaaan penuh, iblis dengan tipuan muslihatnya menyebarkan ranjau, jebakan, guna menghambat pertumbuhan iman kita. Iblis tidak akan pernah berhenti mengganggu kita sampai kita terkapar jatuh. Bagaimana mengenali hambatan-hambatan Iman.

Apa saja yang menjadi hambatan-hambatan iman kita?

  1. Mengabaikan kehidupan batin kita bersama Kristus, sementara kita memusatkan perhatian pada penampilan luar.

Sepertinya kita hidup di zaman di mana orang-orang lebih memusatkan perhatian pada penampilan luar, ketimbang ketulusan hati. Seperti ketika Anda melihat orang menjual mobil bekas yang telah disulap, yang tanpak luar mengkilap, bagus dan menarik, tetapi setelah Anda memakainya beberapa minggu kemudian, semua yang buruk yang tersembunyi mulai menampakkan diri, dan Anda pasti kecewa.

Filosofi dunia adalah: “tidak pernah mendapat kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama.” Yang penting menurut dunia adalah kesan pertama.

Prinsip di atas sangat betentangan dengan Alkitab. Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan bagian luar kita, jika itu berbeda dengan hati kita. Bahkan Tuhan mengutuk mereka yang kehidupan luarnya tanpak rohani, namun pada hakikatnya kehidupan rohani mereka kering dan gersang, bahkan penuh dengan sampah (Lukas 11:39; 1 Samuel 16:7).

Kehidupan yang sejati adalah dari dalam ke luar. Kehidupan yang dari luar ke dalam adalah kemunafikan. Yang menjadi pertanyaan bagaimana kita mengubahnya dan menjalani kehidupan dari dalam ke luar?

a. Perbaharuilah komitmen kita kepada nilai-nilai kerajaan Allah.

Kita harus rendah hati mengakui keadaan ini, bahwa dunia telah membutakan mata kita, sehingga kita menganut sistem nilai duniawi, yang mahir membersihkan bagian luar cawan agar tampil baik di mata orang Kristen lain.

b. Kembangkanlah kehidupan batin bersama Yesus.

Seperti raja Daud yang selalu merindukan hadirat Tuhan, demikianlah pula kita harus selalu merindukan air hidup, yakni Yesus Kristus; Maz 42:2-3. Rasul Paulus, meskipun ia seorang rasul dan tahu banyak kebenaran Allah, namun yang terpenting baginya adalah mengenal Kristus lebih dekat dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan (Fil. 3:10-11).

c. Tinggallah dalam firman Tuhan.

Bagaimana caranya kita mengenal Tuhan dengan baik dan benar? Tinggallah di dalam Firman Tuhan. Jadikan Alkitab sebagai kesukaaan (Maz 1:2; 19:8-9), sebagai cermin (Yak 1:22-25), dan sebagai kompas penunjuk arah. Alkitab adalah perkataan Allah yang hidup dan berkuasa.

d. Bangunlah kehidupan doa sebagai percakapan dua arah.

Salah satu tanda seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah adanya kehidupan doa yang konsisten. Alkitab dan doa tidak boleh dipisahkan. Dalam doa kita berkomunikasi dengan Tuhan, dan melalui Alkitab Allah berkomunikasi dengan kita. Kita hanya akan mengenal seseorang jika kita berkomunikasi dengan dia, begitu juga kita dengan Tuhan. Lihat: http://www.kristenalkitabiah.com/apakah-doa-itu/.

2. Orang yang mencoba berhasil dengan memisahkan diri dari tubuh Kristus, yaitu Jemaat Lokal. (1 Kor. 12:12-27; Ibr 10:24-25).

Dosa manusia yang paling dasar yaitu tuntunan untuk bebas secara total dari siapapun dan apapun (seperti Lucifer). Mereka seperti pasangan yang ingin hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Mereka mengunjungi gereja, tapi tidak mau berkomitmen dengan gereja. Dalam Kej. pasal 3, iblis menjalankan rencananya untuk memisahkan Adam dan Hawa dari persekutuan dengan Allah. Dan sekarang iblis terus berusaha menisahkan orang-orang Kristen dengan tubuh Kristus. Gereja/jemaat adalah keluarga Allah, dan setiap orang percaya harus bergabung dalam komunitas keluarga Allah (Ef. 2:19). Dalam komunitas keluarga Allah kita diberi hadiah kelahiran yang mengagumkan, yaitu nama keluarga, hubungan akrab, warisan keluarga (Fil 4:19). Lihat: http://www.kristenalkitabiah.com/mengapa-harus-berjemaat/

Mengapa kita harus menyatukan diri ke dalam tubuh Kristus? Paling sedikit ada tiga alasan mengapa kita perlu menjadi bagian dari tubuh Kristus.

a. Ada nasihat dan dorongan (Ibr 10:24-25; 1 Tes 5:11).

Gereja bertanggung jawab mengajarkan kebenaran Allah kepada anggotanya, dan mendorong mereka agar hidup dalam kehendak Tuhan. Jika ada yang menyimpang, sudah menjadi tanggung jawab gereja untuk menegur dan menasehati anggotanya tersebut agar berbalik dari jalan yang salah, dan kemudian mendorong para anggota untuk menjalani kehidupan yang benar di dalam Kristus.

b. Persekutuan (KPR 2:42).

Persekutuan bukanlah pertemuan biasa atau obrolan basa-basi. Persekutuan (koinonia) adalah “menjalani kehidupan bersama-sama dalam kejujuran dan kebenaran.” Persekutuan membuat kita bersatu, terbuka, jujur dan saling memperhatikan.

c. Tanggung jawab.

Tuhan memberikan kita tugas dan tanggungjawab sebagai anggota-anggota keluarga Allah. Setiap anggota memiliki tanggungjawab yang tidak boleh diabaikan. Tanggungjawab itu adalah: menghadiri kebaktian secara teratur, mendukung semua program gereja, menaati otoritas Pemimpin gereja, dan bertanggungjawab memberitakan, melestarikan kebenaran Allah agar tetap murni.

3. Orang percaya gagal mengintegrasikan Kristus dalam setiap segi kehidupan (Lukas 16:13).

Orang-orang yang tidak mengintegrasikan Kristus ke dalam setiap segi-segi kehidupan adalah orang Kristen berkepribadian ganda. Dari satu sisi mereka kelihatan rohani, disisi yang lain kelihatan duniawi. Alkitab mengecam orang-orang demikian dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang “mendua hati.” (Yakobus 1:8; 4:4).

Orang-orang yang berkepribadian ganda terbagi dua: yaitu, pribadi sekuler dan pribadi rohani. Mereka begitu rohani ketika berada dalam gereja, dan begitu duniawi tatkala mereka kembali menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

Orang percaya adalah garam dan terang dunia. Terang bukan untuk disembunyikan, dan garam bukan untuk disimpan dalam lemari. Yesus harus terlihat orang dalam hidup kita.Bahkan, orang-orang yang tidak percaya harus merasakan dampak dari kehadiran Kristus dalam hidup kita di segala aspek.

Kita harus menghidupi kehidupan tunggal bersama Yesus (Filipi 1:21). Yesus Kristus harus hidup, menyatu dan terlihat dari pikiran, perasaan, dan kehendak.

a. Dalam pikiran – milikilah pikiran Kristus (Filipi 2:5; 4:8).

Ubah pikiran kita dari sekuler kepada yang kudus, dari duniawi kepada Kristus. Kita harus menolak sistem pikiran dunia dan mencari pembaharuan rohani dalam proses pikiran. (Rm. 12:12; Kol. 3:2; Ef. 4:22-24). Bila pikiran Tuhan menjadi pikiran kita kita akan berpikir mmengenai semua situasi kehidupan dalam konteks kerajaan Allah.

b. Dalam perkataan- milikilah perkataan Kristus (Ef. 4 :29; Kol. 3:8, 16; Mat. 12:36).

Bila Tuhan yang memerintah mulut kita maka teguran kitapun akan dibaharui dalam kasih dan perhatian kepada orang yang hendak kita tegur.

c. Dalam perbuatan – Milikilah perbuatan Kristus (1 Yoh. 2:6).

Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati, tulus, jujur, dan kudus. Dia membenci perbuatan dosa, namun mengasihi orang berdosa. Kita diperintahkan agar hidup seperti Yesus hidup (1 Yoh. 2:6). Siapa diri kita di gereja harus menajadi siapa diri kita di tempat lain.

4. Orang Kristen meremehkan pengaruh dari luar terhadap pertumbuhan mereka.

1 Korintus 15:33 – Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakan kebiasaan yang baik.

Amsal 4:14-15 – Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalan terus.

Setiap orang percaya sedang berperang melawan kuasa-kuasa pengaruh jahat dari hubungan-hubungan yang tidak kudus. Dari manakah pengaruh-pengaruh jahat itu muncul?

a. Dari hubungan yang tidak baik (Mazmur 1:1).

Ada tiga tahap pengaruh negatif memengaruhi orang percaya melalui hubungan yang tidak baik: (1) berjalan disamping orang fasik, (2) berdiri di jalan orang berdosa, (3) lalu duduk dengan pencemooh. Terjadi perubahan dari orang kudus menjadi orang berdosa dan menjadi pendosa (pencemooh).

Hubungan yang tidak kudus menyeret ke dalam cara berpikir mereka (orang berdosa). Orang percaya bukan dari dunia, tetapi berada di dunia (Yoh. 17:15-18). Orang percaya tidak boleh mengisolasi diri dari orang yang tidak percaya, tetapi memisahkan diri dari cara hidup orang berdosa. Orang percaya juga tidak boleh mencoba menerapkan iman ke dalam gaya hidup dan persahabatan yang lama (2 Kor. 10:3).

Jelas sekali bahwa Tuhan memerintahkan orang percaya agar tidak boleh bersahabat dengan dunia, apalagi bersatu dengan dunia (2 Kor 6:14, Rom 12:2; 1 Yoh.2:15-18). Orang percaya harus menjadi pengaruh, tanpa dipengaruhi. Kita harus peka kepada Roh Kudus sehingga kita menemukan keseimbangan yang penting di dalam dunia, tetapi bukan berasal dari dunia.

Menjadi serupa berarti dipadatkan ke dalam suatu cetakan, dibentuk sesuai dengan suatu gambar. Bahasa Yunaninya adalah suschematizo, yang adalah akar kata dari kata “skematik,” yaitu suatu denah atau gambaran atau perwakilan dari suatu objek. Ilah dunia ini mendesain skematik bagi sistem dunia yang jahat ini (Efesus 2:1-3).

b. Dari Media & Musik.

Riset membuktikan bahwa Media adalah salah satu sarana pemurtadan yang paling efektif di dunia. Media secara halus memikat dan menjerat kita sampai akhirnya kita terperangkap. Apakah music yang kita dengar menghilangkan kesukaan kita akan hal-hal rohani? Bagaimana dengan TV, Film yang kita tonton. Bagaimanakah dengan majalah-majalah dan buku yang kita baca? Tentu saja, Media: TV, Majalah, Internet, bukanlah barang haram, tetapi sudahkah kita memperlengkapi diri kita dengan anti-virus, yang cepat mendeteksi pengaruh-pengaruh jahat yang iblis tebarkan melalui media? Dapatkah kita memisahkan mana yang baik ditonton, dan mana yang baik dibaca? Waspadalah!!! Dosa terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Jika TV membuat Anda jauh dari Tuhan, sebaiknya Anda menghindarinya.

Dunia sangatlah agresif, posesif dan menarik. Ia mau membentuk hidup kita sesuai dengan standarnya, fashion-nya, entertainment-nya, prinsip-prinsipnya, filosofi-filosofinya, dan musiknya. Anak-anak Allah harus berdiri teguh melawan tekanan kompromi dunia dalam setiap area hidupnya. Kita harus ingat bahwa dunia tidak mengasihi kita (Yohanes 15:18). Mengikuti jalan dunia adalah bodoh dan berpikiran pendek. Allah mengasihi kita dan Allah adalah hikmat, dan jalan-jalanNya adalah benar dan baik dan kekal.

Umat Allah harus menjadi sahabat orang-orang berdosa tetapi bukan sahabat dunia (Yakobus 4:4). Menjadi sahabat orang berdosa berarti mengasihi mereka dan ingin mereka diselamatkan. Menjadi sahabat dunia adalah mengasihi dosa dan sistem dunia yang jahat ini yang ilahnya adalah Setan (2 Kor. 4:4). Karakteristik dari dunia ini adalah keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:15-16).

1 Yohanes 2:15-17 – Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. Lihat: http://www.kristenalkitabiah.com/sahabat-dunia-vs-sahabat-orang-berdosa/

5. Orang-orang percaya tidak mengutamakan hal-hal yang utama (Titus 3:9-11).

Salah satu tipu muslihat iblis dalam menghambat pertumbuhan iman kita adalah pengalihan perhatian. Iblis itu ahli strategi dalam soal bagaimana menjatuhkan orang-orang Kristen. Iblis punya banyak cara menjebak kita. Salah satu jebakan yang paling ampuh adalah mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang utama kepada hal-hal yang tidak utama. Buktinya semakin banyak orang percaya terjebak pada: hal-hal, sebab-sebab, dan gerakan-gerakan.

Yang terutama dalam kehidupan Kristen setelah ia diselamatkan adalah mengenal Kristus dan membagikan kasihnya kepada dunia. Jangan membiarkan hal-hal minor menyelubungi gambaran besar mengenai apa yang sedang di lakukan Allah dan apa yang Allah ingin kita lakukan.

4 pengalihan perhatian yang sering digunakan iblis untuk menghambat pekerjaan Tuhan dan iman kita:

a. Organisasi.

Gereja tidak boleh diperkecil menjadi aturan yang akan membuatnya menjadi lembaga sekunder. Ruang gerak Roh Kudus tidak boleh dipersempit oleh aturan, kebijakan manusia. Aturan, kebijakan, petunjuk harus menempati posisi minimum sehingga Yesus memiliki otonomi maksimum dalam memimpin kita.

b. Dokrtin & Dogma.

Dalam Alkitab ada ajaran yang mutlak, inti yang harus dipertahankan mati-matian, dan yang tidak mutlak. Keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus, diselamatkan hanya oleh anugerah melalui iman, Alkitab adalah Wahyu Allah yang bebas dari kesalahan, Alkitab adalah sumber otoritas utama untuk hidup di dunia, memberitakan Injil, menyatukan diri ke dalam gereja lokal, kemutlakan moral, Allah Tritunggal adalah doktrin-doktrin yang mutlak, tanpa kompromi harus kita pertahankan. Sedangkan doktrin yang berada di lingkaran kedua: Akhir zaman (premil, amil dan posmil), Haram & Halal tentang makanan, Hari-hari raya (Kolose 2:16).

Memperdebatkan hal-hal yang kurang penting adalah pemborosan jika hal-hal yang utama belum dikerjakan. Tetapi jangan salah paham di sini. Hal-hal atau doktrin-doktrin yang berada di lingkaran kedua bukan juga dengan mudah bisa kita abaikan. Hanya saja jangan menjadi prioritas atau pokok utama yang harus diperjuangkan.

c. Politik.

Tidak ada yang salah dengan politik. Orang Kristen harus berpolitik secara kebangsaan (Yeremia 27:7). Bagi saya (penulis) merupakan kesalahan (dosa) jika orang percaya tidak berpolitik (Yak. 4:7). Tetapi ada resiko, keterlibatan dalam dunia politik dapat mengalihkan kita dari hal-hal yang utama. Kita harus menjaga prioritas kita (Kolose 1:28-29).

d. Pekerjaan.

Pekerjaan adalah ide Tuhan. Dari Tuhanlah pekerjaan itu ada. Firman Tuhan memerintahkan agar manusia bekerja, dan dari pekerjaannya ia dapat hidup, menghidupi keluarga, orang lain, dan dapat memberi bagi pekerjaan Tuhan (Kel.20:9; 1 Tim.5:18; 2 Tim. 2:6; 2 Tes.3:10).

Tetapi pekerjaan telah memperbudak banyak anak-anak Tuhan. Pekerjaan bukan saja mengalihkan perhatian banyak orang percaya dari prioritas mereka, tetapi juga telah menjadi allah mereka.

Dari penelitian yang dilakukan The Barna Research, salah satu penghalang kemajuan rohani adalah “kesibukan dalam pekerjaan.” “Mereka terlalu sibuk; jadwal dan energi mereka terkuras pada pekerjaaan mereka, kata George Barna” (George Barna, Growing True Disciples).

6. Orang percaya laut mati, Orang Kristen hanya menerima terus menerus, tetapi sedikit atau sama sekali tidak memberi (2 Kor 8:1-5).

Orang Kristen demikian tidak ubahnya seperti Laut mati, yang hanya menerima air, tapi tidak untuk menyalurkannya. Mereka berprinsip Waduk, terus-menerus menerima, tapi tidak memberi seperti halnya Pipa. Akibatnya, mereka terserang penyakit Obesitas rohani/ kegemukan rohani karena tidak punya saluran untuk menyalurkan masukan rohani yang di terima. Tipe orang Kristen demikian dalam gereja ialah mereka yang sekedar hadir hari minggu, mereka mencatat dan menyimak khotbah-khotbah yang disampaikan, bahkan mengerti banyak kebenaran Alkitab, akan tetapi semua yang mereka tahu tidak diaplikasikan, tidak diterapkan, atau tidak ditaati oleh mereka.

Mereka tahu bahwa melayani Tuhan dan memberitakan Injil adalah tugas dan tanggung jawab mereka, tapi mereka sengaja mengabaikannya.Mereka mungkin juga tahu bahwa tidak mengembalikan persepuluhan adalah tindakan menipu Allah, tetapi juga diabaikan.

Orang percaya yang tidak menyibukan diri dalam pelayanan cenderung menjadi sok sibuk, suka mencampuri urusan orang lain dan cepat sekali tersinggung. Sebaliknya, mereka yang belajar melayani dalam gereja local cenderung sabar, mengerti orang lain, dan ingin menolong orang lain.

Agar penyakit ini sembuh, orang percaya harus melibatkan diri dalam pelayanan. Melayani membuat kita rendah hati karena melayani orang lain akan menghancurkan kesombongan kita (Fil. 2:3-2). Melayani membuat kita bergantung pada Tuhan (2 kor 12:9-10), dan membuat kita puas.

7. Hambatan yang ke tujuh adalah orang-orang percaya hidup oleh perasaan, bukan oleh iman.

Mereka adalah tipe orang Kristen Roller coaster, perjalanan hidup yang dikendalikan oleh perasaan atau emosi. Kita hidup di tengah budaya yang terobsesi dengan apa yang kita rasakan. Sering kali kita bertemu dengan orang-orang yang tidak mengakui kenyataan buruk, membohongi keadaan diri mereka yang sebenarnya. Sepertinya kelihatan begitu sangat rohani apabila seseorang terus meyakinkan dirinya luar biasa sementara pada kenyataannya dirinya sedang dirundung masalah.

Mengakui kenyataan pahit, mungkin kegagalan atau keadaan yang tidak kunjung baik bukanlah berarti Anda kurang Iman. Kita harus jujur apapun kondisinya. Beriman kepada Yesus Kristus tidak harus menyangkali kenyataan yang terjadi, melainkan mengakuinya dan kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Di sinilah letak perbedaannya, ketika kita memercayai Firman Tuhan dan menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan, kita akan menjadi kuat dan perasaan kita akan menjadi positif, bukan karena kita mencoba meyakinkan diri kita tetapi itu semua karena ada dasar, ada fakta yang meyakinkan dan menguatkan hati kita.

Iman itu ibarat kereta api. Fakta/ kebenaran mewakili mesin lokomotif. Perasaan mewakili gerbong tukang rem. Kehendak/ ketaatan mewakili bahan bakar yang menghidupkan mesin. Kita harus meletakkan apa yang kita ketahui mendahulukan apa yang kita rasakan. Perasaan kita harus dituntun oleh apa yang kita ketahui, bukan sebaliknya. Lihat:http://www.kristenalkitabiah.com/mungkinkah-anda-adalah-orang-kristen-perasaan/

8. Orang Kristen tidak membereskan dosa dengan cepat dan menyeluruh (Ibr 12:1).

Identitas baru Anda sebagai anak Allah tidak menjamin bahwa Anda bebas dari dosa. Anak-anak Tuhan memang bukan lagi orang berdosa yang akan dihukum, namum bukan pula pendosa-pendosa yang cenderung melakukan dosa. Ketika kita bertobat, Allah mengubah hati kita menjadi baru dan mengubah paradigma kita sehingga kecenderungan yang tadinya ingin melakukan dosa hilang.

Tetapi penting untuk kita ketahuai ialah, Tuhan tidak mengubah tubuh kita dan menghilangkan ingatan kita akan semua hal yang buruk yang kita ketahui. Nah, pertempuran rohani terjadi di sini, antara hati kita yang baru

berlawanan dengan sifat kedagingan kita yang ingin melakukan dosa serta pikiran-pikiran yang masih menyimpan kenangan-kenangan yang berdosa.

Dalam pergumulan ini tidak sedikit orang yang telah lahir baru jatuh ke dalam dosa. Tuhan sangat tahu akan hal ini. Itu sebabnya Ia terus memperingatkan kita agar berhati-hati dan selalu waspada pada keinginan daging dan pikiran-pikiran yang negative.

Nah, jika seorang Kristen jatuh ke dalam dosa, secepat mungkin orang tersebut harus membereskan atau mengakui dosanya dan kesalahannya kepada Tuhan. Tindakan cepat demikian menghalangi kita melakukan dosa-dosa yang lebih besar dan lebih buruk. Ingat! Semua dosa-dosa besar dimulai dengan langkah pertama.

Kalau kita tidak belajar menyelesaikan masalah-masalah dengan cepat dan menyeluruh, maka dengan mudah kita dapat terjerumus ke dalam dosa tanpa kita sadari.

Dosa itu agresif dan posesif, menipu dan memperdaya (Ibr. 3:13). Sekali Anda membiarkan dosa masuk ke dalam hidupmu, seperti kanker, itu akan menjalar sampai pada akhirnya Anda akan sulit menyembuhkannya. Sekecil apa pun dosa itu, dosa tetaplah dosa. Jangan meremehkannya.

Akibat-Akibat yang terjadi jika kita membiarkan dosa tinggal dalam hidup kita:

Dosa mendatangkan hukuman (Ibr 12:5-8), (1 Kor 11:28-32);
Dosa menghapus sukacita dari orang percaya/ merusak persekutuan dengan Allah (Maz 51:10-11);
Dosa menyebabkan kehilangan tuntunan Roh Kudus;
Dosa dapat membuat Allah tidak mendengarkan doa-doanya (Yes. 591-2);
Dosa menghapus semangat orang percaya untuk memenangkan jiwa (Contoh: Lot);
Dosa membawa cela bagi Kristus, Alkitab & kekristenan (Bila orang Kristen berdosa, John R. Rice).

Jika hari ini ada dosa yang belum Anda bereskan, akuilah, sekecil apapun dosa itu, dan secepat mungkin bereskan tanpa ada tang tertinggal (1 Yoh. 1:9).

9. Orang-orang Kristen yang membiarkan kekecewaan dan masalah atau tragedi membuat mereka pahit hati, bukan membuat lebih baik. Ibrani 12:19.

Menjadi Kristen bukanlah akhir dari persoalan, bahkan menjadi Kristen adalah babak baru dari kehidupan yang unik, ada sukacita, ada dukacita, ada tangis dan ada pula tawa.

Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang seimbang antara kesukaan dan kesusahan. Allah tidak menjanjikan taman bunga mawar duri. Kehidupan akan menjadi lebih mudah, juga lebih sulit dengan masuknya Yesus dalam hati kita (Mat. 11:28-29). Tragedi kehidupan dalam kehidupan orang percaya diijinkan Tuhan untuk membentuk kita menajdi serupa dengan gambar Kristus (Roma 8:29-30).

Sayang sekali, banyak dari orang percaya pada akhirnya menjauh dari kasih karunia karena mereka salah menanggapi masalah-masalah yang menimpa mereka. Alih-alih berintrospeksi, mereka kecewa, menyalahkan orang, bahkan menyalahkan Tuhan.

Masalah atau tragedy dalam hidup orang percaya bisa terjadi karena beberapa hal: Itu bisa dikarenakan dosa-dosa yang kita sembunyikan sehingga memaksa Allah mendisiplinkan/menghajar kita (Ibr. 12:5-6). Itu juga bisa terjadi karena Tuhan ingin menguji iman kita seperti Ayub, Paulus, agar iman kita bertumbuh kuat dan dewasa. Dan terakhir bisa jadi karena keputusan-keputusan kita yang salah tanpa melibatkan Tuhan.

Saat ketika tragedy hidup menimpa Anda, segeralah memeriksa diri Anda, apakah itu karena dosa Anda, atau karena Allah sedang membentuk Anda agar semakin serupa dengan karakter-Nya. Jika itu datangnya dari Tuhan maka kita patut mengucap syukur sebab tangan-Nya yang berkuasa sedang menyempurnakan kita. Bagaimana kita bisa tahu? Roma 8:28 dengan jelas memberitahu kita bahwa dalam segala sesuatu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.

10. Orang-orang Kristen tidak/kurang menerima kasih karunia yang tak terbatas dan pengampunan penuh/sempurna dari Tuhan.

Seorang wanita di West Palm Beach, Florida, ditemukan mati pada usia 71 tahun. Laporan dari petugas yang memeriksa tentang sebab musabab terjadinya kematian justru tragis. Penyebab kematiannya adalah kekurangan makanan. Berat tubuh wanita tua itu hanya sekitar 25 kilogram.

Pekerjaan sehari-hari wanita ini adalah meminta-minta sisa makanan dari para tetangganya dan pakaian yang dikenakannya diperoleh dari Bala keselamatan. Dari luar dia tampak sebagai sorang wanita yang tidak memiliki uang sepeser pun, seorang janda tua yang terlupakan dan memelas. Tetapi, masalahnya bukanlah demikian.

Dibalik keberadaannya yang kotor, padanya ditemukan dua buah kunci yang memberi petunjuk bahwa ia mempunyai deposito di dua bank local. Dan apa yang mereka dapatkan, sungguh sulit untuk dapat dipercaya. Kotak simpanan deposito yang pertama berisi 700 sertifikat, ditambah dengan ratusan surat yang hampir mencapai jumlah tiga ratus juta rupiah. Kotak deposito yang kedua tidak berisi sertifikat, tetapi berisi lebih banyak uang tunai, sekitar Sembilan ratus juta rupiah. Kotak deposito itu juga masih ditambah dengan harta kekayaan yang bila diakumulasikan dapat mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Wanita itu, biar bagaimanapun adalah seorang miliuner, tetapi ia mati karena kelaparan di sebuah tempat yang tidak terurus.

Ketika seseorang diselamatkan, Allah mengaruniakan anugerah yang tak terbatas kepada setiap orang percaya, baik di bumi maupun di sorga (Fil. 4:19; Mat. 6:33 & Ef. 1:3). Identitas kita sebagai orang percaya menunjukkan betapa penting/khusus/special/istimewanya kita dihadapan Tuhan. Lihat: http://www.kristenalkitabiah.com/identitas-baru-orang-percaya/)

Kita telah dibeli Kristus dengan nyawanya, kita telah disucikan, diampuni semua dosa-dosa kita, kita telah dimerdekakan, diadopsi menjadi anaknya, tetapi acapkali sikap dan tindakan kita tidak mencerminkan betapa istimewanya kita di dalam Kristus. Namun sedikit sekali orang percaya yang menyadari kebenaran ini. Banyak orang Kristen bersikap dan bertindak seperti anak sulung dalam Lukas 15 dan nubuatan Yesus dalam Matius 19:30, yang mengeluh dalam kelimpahan, miskin dalam kelebihan. Mereka telah menyia-nyiakan kasih karunia Allah.

Potensi, kesempatan, berkat rohani yang Allah berikan memungkinkan orang-orang percaya berhasil menghidupi kehidupan di dunia ini. Janji penyertaan dan pemeliharaan dan karunia-karunia rohani serta berkat-berkat jasmani dikarunikaan untuk melengkapi orang-orang percaya agar berhasil, menjalani kehidupan rohani yang berbuah, melayani Tuhan dengan efektif. Apalagi Roh kudus tinggal di dalam hati kita adalah kasih karunia yang amat sangat besar, yang dapat memberikan manfaat rohani yang tak ternilai bagi orang-orang percaya. Alkitab juga adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita.

Tuhan juga memberikan kita hak istimewa untuk datang berkomunikasi serta meminta apa yang menjadi kebutuhan kita melalui doa. Apakah masih ada yang kurang? Kalau begitu mengapa kita tidak memanfaatkan atau menghargai kasih karunia ini? Jangan sia-siakan kasih karunia Allah dalam hidup kita. Bersihkan hidup kita dari masa lalu, kebiasaan lama, pola pikir lama. Layanilah Tuhan dalam kasih karunia-Nya. Ingatlah selalu siapa diri kita di dalam Kristus, milik siapa kita? Dan akhirnya, bersyukurlah kepada Tuhan dalam segala hal.

By Alki F. Tombuku

Sumber:

Dr. John R. Rice, Bila orang percaya berdosa (Kalam Hidup).

Jerry Bridges, Bagaimana menjadi dewasa dalam Kristus (Pionir Jaya).

George Barna, Growing True Disciples (Metanoia).

Dr. Tom Allen, 10 Hambatan Terhadap Pertumbuhan Iman (Kalam Hidup).

Dr. Tonny Evans, Penuntun ke dalam keberhasilan rohani (Interaksara).

Sumber asli : http://www.kristenalkitabiah.com/10-hambatan-pertumbuhan-iman/

The Next Level

“Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.” (Kej 41:49)

Yusuf diproses oleh Tuhan selama 13 tahun sejak ia berusia 17 tahun sampai usia 30 tahun, dan akhirnya ia menjadi orang nomor dua di Mesir. Selama 13 tahun ia bertahan dalam proses karena ia memegang janji Tuhan yang ia terima melalui sebuah mimpi dan Yusuf mengalami naik ke level yang lebih tinggi. Mengapa Yusuf bisa naik ke level yang lebih tinggi?

Syarat untuk naik ke level yang lebih tinggi :

1. Dipenuhi Dengan Roh Kudus

“Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (Kej 41:38)

“Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38)

Tiga tahapan penting orang percaya : Bertobat (menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru S’lamat pribadi), Dibaptis (bapto/baptiso : selam), Menerima karunia Roh Kudus (harus lewat baptisan Roh kudus).

“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.” (1 Kor 12:7-10)

Setiap orang dikarunia penyataan Roh yang berbeda-beda sesuai dengan yang dikaruniakan kepadanya. Tanda orang yang penuh dengan Roh Kudus tidaklah mutlak berbahasa Roh karena berbahasa Roh adalah karunia Roh. Tanda orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah hidup tertib dan dipimpin oleh Tuhan.

2. Berakal Budi dan Bijaksana

“Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.” (Kej 41:39)

Orang yang sukses adalah orang yang menggunakan kerjasama antara hati dan pikiran. Ilmu pengetahuan tanpa iman adalah buta dan iman tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh.

3. Pekerja Keras, Pantang Menyerah dan Menyelesaikan Tugasnya Dengan Baik

“Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.” (Kej 41:46)

Orang yang naik ke level yang lebih tinggi adalah orang yang mau bekerja lebih, memberikan yang terbaik dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Jangan pernah katakan “Tuhan, aku punya masalah yang besar” tapi “masalah, aku punya Tuhan yang besar”.

4. Miliki Mental Manasye (Jalan menatap kedepan dan lupakan masa lalu)

“Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”” (Kej 41:51)

Masa lalu bisa menjadi penghalang keberhasilan kita dimasa yang akan datang dan menjadi pengikat sehingga kita tidak bisa berlari menuju garis finish hidup kita. Oleh karena itu, lupakan segala yang tidak baik dari masa lalu kita dan tatap masa depan yang Tuhan sediakan.

5. Miliki Iman Efraim (Ditengah masa sukar, aku justru diberkati)

“Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” (Kej 41:52)

“And the name of the second called he Ephraim: For God hath caused me to be fruitful in the land of my affliction.” (Genesis 41:52) (KJV)

“TUHAN YESUS MEMBERKATI” 

Pdt. Andi Panggabean, MA. D-Min.

KESAKSIAN

Posted: 24 April 2012 in Kesaksian, Khotbah, Motivasi, Pertobatan, Renungan, Rohani
Tags:

Kesaksian Muhammad Soewito 1

Kesaksian Muhammad Soewito 2

Kesaksian Muhammad Soewito 3

Kesaksian Muhammad Soewito 4

Kesaksian Muhammad Soewito 5

Kesaksian Muhammad Soewito 6

Muslim Kesaksian Ibu Siti Hadidja

Kesaksian Daud Tony 1

Kesaksian Daud Tony 2

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

(Yohanes 14:6)

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

“Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kis 24:16)

Setiap orang pasti ingin menjadi orang yang sukses dan berhasil maka kunci utamanya adalah dari hati. Apa yang dimaksud dengan hati nurani? Hati nurani adalah suara dari dalam hati atau batin kita yang berfungsi sebagai hakim dan wasit, yang akan menuduh jika kita melakukan hal yang salah oleh karena itu akan membuat kita merasa salah, merasa tidak nyaman, gelisah tapi ia juga akan memberi damai sejahtera jika kita melakukan hal yang benar.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Roma 2:14-15)

Kalau hati nurani kita murni maka kita akan peka terhadap suara hati nurani. Hati nurani itu ibarat GPS. GPS adalah alat penunjuk jalan dikala kita tersesat. Hati nurani kita pun demikian, hati nurani adalah alat penuntun kita kejalan yang benar agar tidak menyimpang kekanan maupun kekiri. Ketika kita berbuat salah maka hati nurani kita akan terus menuduh kita. Hati nurani yang diabaikan dapat membuat hati nurani kita menjadi tumpul atau bahkan mati, sehingga suara hati tidak dapat menuntun kita kembali.

Tiga hal yang dapat menyebabkan hati nurani kita menjadi kotor :

1. Membenarkan Diri Sendiri

Jika kita melakukan kesalahan maka hati nurani kita akan mendakwa kita. Namun kita bisa menipu hati nurani kita. Ketika hati nurani kita berkata bahwa kita salah, kita tidak mengabaikannya dan merasa bahwa kita melakukan hal yang benar. Waspadalah, karena hati nurani yang terus dibohongi dapat membuat hati nurani kita menjadi tumpul bahkan mati. Kalau hati nurani kita sudah mati, maka ketika kita melakukan dosa, maka hati nurani tidak dapat berkata-kata lagi, sehingga kesalahan yang kita buat jadi dibenarkan.

2. Mengabaikan Suara Hati Nurani

Kalau kita abaikan alarm suara yang berbicara dari hati nurani kita, maka suara itu akan mati dengan sendiri. Sama seperti alarm seatbelt mobil, jika pengemudi tidak mengenakan seatbelt, maka alarm akan terus berbunyi. Namun alarm seatbelt pun akan mati dengan sendirinya jika terus diabaikan oleh pengemudinya. Responi alarm dari suara hati kita dan jangan diabaikan agar hati nurani itu tidak mati. Jagalah hati kita, karena Roh Kudus sering kali berbicara melalui hati nurani kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati nurani kita supaya tetap murni agar Roh Kudus dapat terus berbicara dalam hati kita. Semakin murni hati kita akan semakin jelas Roh Kudus yang berbicara dalam hati kita. Kalau kita berbuat salah, mintalah pengampunan dosa kepada Tuhan, karena Dia setia dan adil dan akan mengampuni dosa-dosa kita. Jangan abaikan suara hati nurani kita yang menegur kita.

3. Hidup Dalam Kepura-Puraan (Kemunafikan)

Ketika kita hidup dalam kepura-puraan maka sesungguhnya kita sedang membohongi hati nurani kita. Kita sering berkata yang manis kepada orang padahal hati kita sedang benci dan dengki dengan orang tersebut. Kita harus hidup jujur seorang dengan yang lain. Bukan kita menjadi orang yang serba bicara apa adanya, tapi kita harus melakukan segala sesuatu dengan kasih Tuhan.

“Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus.” (Roma 9:1)

Bagaimana menjaga hati nurani kita murni :

1. Mengaku Dosa

Jika kita melakukan dosa, maka kita harus mengaku dihadapan Tuhan. Responi suara hati kita, jika hati nurani kita menyatakan kesalahan-kesalahan kita.

2. Mengisi Hati Nurani Kita Dengan Firman Tuhan

Kita harus hidup senantiasa seturut firman Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi patokan dan tuntunan dalam hidup kita agar kita tidak menyimpang dari jalan-jalan Tuhan.

3. Menuruti Tuntunan Roh Kudus Dalam Hati Nurani

Jangan pernah melawan suara hati nurani kita, karena Roh Kudus berbicara dalam hati nurani kita. Ia memberikan tuntunannya melalui hati nurani kita.

Hati nurani kita adalah sebuah sarana untuk Roh Kudus berkata-kata tentang jalan-jalan kehidupan yang harus kita tempuh. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa menjaga kemurnian hati kita agar kita hidup berkenan dihadapan Tuhan. Amin…

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

Oleh: Pdt. Agus Lutan

Dua belas tahun yang lalu saya mengalami suatu pengalaman yaitu saya dibawa ke neraka. Secara sadar saya melihat pembantaian yang luar biasa yang terjadi di dalam neraka. Saya mengalami stress yang berat ketika menerima penglihatan karena harus menyampaikan hal ini kepada banyak orang. Dua belas tahun tertekan karena begitu banyak orang yang terlewat dan masuk ke neraka tanpa mendengar kesaksian ini, namun sekarang hal itu telah terbayar karena sudah ribuan orang yang bertobat dan diselamatkan melalui kesaksian ini. Mengapa saya yang dikirim Tuhan ke neraka? Karena hanya orang hidup yang dapat memberitakan Injil, orang mati tidak mungkin akan menyampaikan Injil Allah kepada orang hidup. Untuk menyampaikan kepada semua orang yang masih hidup bahwa neraka sungguh ada dan semua orang yang mendengar bertobat.

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.” Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr 10:26-31)

Pengalaman dibawa kedalam neraka membuat saya sadar , bahwa Injil Kerajaan Allah harus diberitakan, sungguh berharga satu nyawa dihadapan Tuhan. Tidak ada kata yang tepat yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan yang ada di neraka. Apa saja yang saya lihat dineraka :

  1. Ada sebuah gerbang tinggi besar yang bertuliskan tulisan-tulisan roh yang artinya “Lembah Penyiksaan”.
  2. Suasana keputusasaan.
  3. Jiwa-jiwa yang terhilang yang begitu banyak jumlahnya.
  4. Seorang wanita yang dikelilingi oleh roh-roh jahat, yang terus diintimidasi oleh roh-roh jahat itu menurut bahasa mereka yaitu, “ayo berdusta, ayo berdusta”. Wanita itu terus dipaksa untuk mendustai Tuhan. “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” (Mat 5:29-30)
  5. Seorang pria yang badannya sudah meleleh, tidak bisa mati, dan mendekati lautan api. Orang yang sedikit saja mendekati lautan api tubuhnya pasti meleleh. roh-roh jahat meneriakkan “masturbasi, masturbasi”. Setiap orang yang masturbasi mengeluarkan seperti ulat-ulat dari seluruh lubang ditubuh dan kemaluannya.
  6. Orang yang mati karena saling membenci, mereka hidup saling memakan satu dengan yang lain. Mereka disebut “pembunuh” dan di neraka mereka saling membunuh.

“Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” (Way 20:11-15)

Maut adalah orang yang mati didalam dosanya, jiwa-jiwa yang tidak menemukan pertobatannya. Gerbang neraka itu menarik semua jiwa yang sudah tidak menemukan pertobatannya. Kerajaan maut adalah tempat penyimpanan orang-orang yang hidupnya tidak didalam Tuhan. Lautan api adalah tempat terakhir untuk setan-setan dan semua orang yang tidak hidup dalam Tuhan setelah Tuhan Yesus datang kedua kalinya, perapian yang tidak akan padam sampai selama-lamanya.

Fokus kita adalah firman Allah dan bukan kepada neraka. Kita harus fokus kepada keselamatan kita didalam Tuhan. “Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Hal utama yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal dan tidak turut masuk dalam kematian yang kekal adalah bertobat dan berbalik dari setiap kejahatan kita. Amin…

“TUHAN YESUS MEMBERKATI”

khotbah lain dari : Ps. Phillip Mantofa