Jangan menjadi Orang Kristen Musiman

Posted: 24 April 2010 in Renungan
Tags: , , , , ,

Markus 11:13 “Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara”.

Ketika Yesus dan murid-muridnya meninggalkan Betania, ditengah jalan Yesus merasa lapar dan melihat sebatang pohon ara, namun tidak menemukan buah disana karena memang belum musimnya. Karena itu Yesus berkata “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!”. Pohon ara itu kena kutuk, dan sejak perkataan itu di ucapkan, pohon ara itu menjadi kering dan mati. Kalau kita perhatikan kisah ini dengan seksama, Tuhan Yesus seolah-olah kejam. Pohon ara yang tidak bersalah saja di kutuknya. Bagaimana ini, apa salahnya pohon ara itu? Saat itukan memang bukan musim berbuah?.

Perhatikan saudaraku, saat itu Tuhan Yesus memperkatakan itu di depan murid-muridnya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin di sampaikan Tuhan Yesus melalui pohon ara itu. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan Yesus sering mengajar murid-muridnya melalui perumpamaan-perumpamaan. Satu hal kita lihat dari peristiwa ini bahwa Tuhan Yesus tidak ingin murid-muridnya dan kita semua menjadi orang Kristen musiman yaitu berbuah pada saat-saat tertentu saja. Tuhan ingin kita senantiasa berbuah bagi-Nya.

Yohannes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu”.

Bicara mengenai buah, ada dua buah yang diinginkan Tuhan dari kita yaitu buah pertobatan dan buah berupa jiwa-jiwa yang di bawa ke Tuhan. Namun bagaimana kita bisa membawa jiwa-jiwa kalau kita sendiri masih belum menghasilkan buah pertobatan? Bagaimana kita menyelamatkan orang lain kalau kita sendiri masih belum selamat? Bagaimana bisa orang buta menuntun orang buta lainnya kejalan yang benar? Bukankah kedua-duanya akan tersesat dan terpelosok masuk jurang?.

Oleh sebab itu untuk renungan ini saya lebih memfokuskan kepada buah yang berbentuk pertobatan. Tuhan ingin kita senantiasa hidup dalam pertobatan. Tidak hanya datang beribadah hanya saat “mood”nya baik. Tidak hanya datang beribadah saat natal atau hari besar Kristen lainnya. Kelihatan hidup kudus pada hari minggu saja, sementara hari lainnya tidak ada bedanya dengan orang dunia. Kelihatan Kristen pada saat hari minggu, sementara hari senin sampai sabtu tidak jelas. Maaf saudaraku, ini mungkin agak keras. Tapi renungan ini juga saya tujukan kepada diri saya pribadi. Saya tidak berusaha menghakimi siapapun, biarlah firman Tuhan yang menghakimi kita.

Bagaimana supaya berbuah senantiasa?

Yeremia 17:7-8 “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah“.

Ayat diatas menjelaskan untuk dapat senantiasa berbuah maka kita harus melakukan 2 hal yaitu :

1. Mengandalkan Tuhan.

2. Menaruh segenap pengharapan hanya kepada Tuhan.

Dengan mengandalkan dan berharap pada Tuhan itu sama dengan ranting yang menempel pada pohon. Pohonlah yang menyalurkan zat-zat makanan kepada ranting sehingga ranting dapat menghasilkan buah. Oleh sebab itu agar senantiasa berbuah maka kita harus senantiasa menempel pada Pohon itu yaitu Tuhan Yesus maka kita akan senantiasa berbuah. Amin.

Doa: “Tuhan Yesus, kami rindu senantiasa menyenangkan hati-Mu. Kami rindu senantiasa berbuah dan tidak menjadi Kristen musiman. Tolong kami ya Tuhan, agar kami senantiasa hidup dalam Engkau. Sama seperti ranting tidak akan dapat berbuah jika tidak tinggal dalam pohon demikian pula kami tidak adakan dapat berbuah jika kami tidak tinggal dalam Engkau. Engkaulah pohon kehidupan itu ya Tuhan dan biarlah kami senantiasa tinggal dalam Engkau. Dalam nama Yesus kami berdoa”. Amin

By Nelson Saragih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s