Ketaatan Melahirkan Badai

Posted: 22 April 2010 in Renungan
Tags: , , ,

Bacaan: Matius 14:22-32
Yesus segera memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan mendahuluiNya ke seberang. – Mat 14:22

Kalau Tuhan yang menyuruh pasti semuanya dijamin beres. Tak akan ada masalah. Tak akan ada kesulitan. Tak ada ketakutan. Tak ada kekuatiran sama sekali. Semuanya akan baik-baik saja. Pemikiran seperti inilah yang ada dibenak murid-murid ketika Yesus memerintahkan mereka untuk mendahuluiNya dan bertolak ke seberang. Dengan siulan sukacita mereka mulai mendorong perahunya agar segera berlayar.

Namun siapa sangka, ketika mereka ada di tengah-tengah danau, tiba-tiba saja langit menjadi begitu gelap. Awan hitam bergulung-gulung dengan suara bergeluruh. Angin sakal datang tanpa diundang. Badai mulai menghantam mereka! Kekacauan mulai terjadi. Parahnya, perahu murid-murid sudah diombang-ambingkan kian kemari dan kemasukan banyak air. Dalam situasi seperti ini, bisakah Anda menebak apa yang ada di benak pikiran murid-murid?

Bukankah Yesus yang menyuruh bertolak ke seberang? Bukankah kami sudah berusaha taat? Lalu mengapa badai datang justru pada saat kami taat? Mengapa sepertinya Tuhan mengirim kami kepada badai dan membiarkan kepanikan kami begitu saja? Pertanyaan-pertanyaan yang sama sedang bermunculan di pikiran kita. Bukankah aku sudah bertobat, mengapa justru masalah semakin kompleks? Bukankah aku sudah belajar memberi, mengapa justru usahaku bangkrut? Bukankah aku sudah belajar mengampuni, namun mengapa tatapan sinis yang aku terima? Bukankah aku sudah mengikut dan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, tetapi mengapa badai kehidupan yang aku tuai?

Sabar, ceritanya belum selesai. Tak lama kemudian datanglah Tuhan dan segera meredakan badai itu. Ternyata Tuhan tidak meninggalkan mereka. Tuhan hanya ingin sekali lagi memberikan pengalaman menakjubkan kepada mereka! Di tengah-tengah badai kehidupan yang sedang menerpa, Tuhan tak akan biarkan kita seorang diri. Ia selalu menyertai kita. Ia tahu persis bagaimana meredakan badai itu. Ia ahlinya. Justru Ia ingin membawa kita ke sebuah pengalaman iman yang menakjubkan. Mengalami mujizat besar karena kita taat. Merasakan luar biasanya pertolongan Tuhan karena lebih dulu merasakan badai kehidupan. Jadi, jangan pernah berhenti melakukan ketaatan.

Menghadapi badai hidup dengan iman, sukacita dan penyerahan diri.

Comments
  1. elcharis says:

    Cerita model seperti ini selalu menguatkan saya saat berada dalam keputus-asaan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s